Jerat Utang dan Manipulasi Uang Kertas

Posted: 17 September 2012 in Kapitalisme Global

Setelah Orde Baru tamat, melalui instrumen-instrumen yang kini telah legal – berkat berbagai ‘Reformasi Hukum’ – intervensi IMF dan Bank Dunia yang di masa Soeharto hanya sebatas ‘mempengaruhi kebijakan’, di ‘Era Reformasi’ ini praktis telah sepenuhnya ‘mendikte kebijakan’ pemerintah RI. Perhatikan fakta berikut: dalam kurun lima tahun (1998 – 2003) Indonesia menandatangani 18 LoI, yang mencakup sekurangnya 1.300 butir tindakan ‘reformasi’ yang harus dijalankan oleh pemerintah. Salah satu yang terpenting, yang telah disebutkan di atas, adalah dilepaskannya Bank Indonesia dari kontrol politik pemerintah RI. Secara umum bidang-bidang yang harus direformasi ini, antara lain, mencakup restrukturisasi perbankan, restrukturisasi utang perusahaan, liberalisasi perdagangan, pemulihan aset dan kepailitan, swastanisasi BUMN dan penjualan aset negara, dan sebagainya. Jumlah undang-undang baru, yang semakin berorientasi kepada kepentingan kapital asing, yang telah diundangkan di masa B.J Habibie saja (tak sampai dua tahun), berjumlah 67 undang-undang. Sudah disebutkan di atas, bersamaan dengannya, pemerintahan singkat B.J. Habibie ini telah menambah utang luar negeri Indonesia sebesar 24 miliar dolar AS, setara dengan utang Soeharto selama sekitar 15 tahun.

Jerat utang para rentenir itulah sumber beban berat rakyat Indonesia selama ini. Dalam anggaran nasional Indonesia saat ini jumlah cicilan pokok dan bunga utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh (52%) penerimaan pajak, setara Rp 220 triliun. Dan, sekali lagi, ini baru pajak yang langsung dibayar secara tunai, sebelum kita hitung pajak lainnya yakni inflasi dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang terus menerus terjadi. Sekadar untuk menyegarkan ingatan kembali, sebelum ‘Krismon’ (1997) nilai tukar ruiah terhadap dolar AS adalah sekitar Rp 2200/dolar AS. Pada pertengahan 2006 (Juni) saat buku ini ditulis nilai tukar dolar adalah sekitar Rp 9500/dolar AS.

Sampai pada tahun 1983 nilai tukar rupiah terhadap dolar sesungguhnya cuma Rp 415/dolar AS, sampai kemudian atas desakan IMF dan Bank Dunia, rupiah didevaluasi pada Maret 1983, sebesar 55%, menjadi lebih dari Rp 600 per dolar AS. Rupiah, kembali atas tekanan IMF dan Bank Dunia, kemudian didevaluasi lagi pada September 1986, sebesar 45%, menjadi sekitar Rp 900 per dolar AS. Dari waktu ke waktu nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi sampai mencapai angka sekitar Rp 2.200 per dolar AS, sebelum ‘Krismon’ 1997. Nilai rupiah kemudian mengalami ‘terjun bebas’ pada pertengahan 1997, dan sejak itu terus terombang-ambing dalam – lagi-lagi atas kemauan IMF dan Bank Dunia – sistem kurs mengambang (floating rate), dengan titik terendah yang pernah dicapai sebesar Rp 15.000 per dolar AS, di awal 1998.

Angka Kurs rupiah yang mengambang terhadap dolar ini terus dapat dengan mudah ‘dibanting’ sewaktu-waktu melalui cara-cara ‘spekulatif’ oleh para pemain pasar. Akibatnya dari manipulasi atas nilai kurs ini adalah kemungkinan sewaktu-waktu terjadinya depresiasi secara drastis dan mendadak. Lagi-lagi ini merupakan pajak yang dibebankan kepada masyarakat. Mudahnya satu pihak melakukan manipulasi atas sistem uang kertas ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Tindakan pertama dimulai ketika secara serentak sejumlah pedagang uang menjual rupiah secara besar-besaran, hingga nilai rupiah terus merosot. Biasanya ini dilakukan pada saat kebutuhan dolar melonjak, misalnya ketika banyak utang luar negeri (dalam dolar) jatuh tempo. Maka Bank Indonesia akan berusaha menahan kemerosotan rupiah melalu intervensi pasar, dengan menjual cadangan dolarnya. Tapi, pada satu titik tertentu, Bank Indonesia sendiri akan kehabisan cadangan dolarnya. Rupiah pun akan terus merosot, tak tertahankan.

Para ‘spekulator’, yang memahami semua permainan ini, pada saat tertentu itu akan meminjam uang ke bank-bank di Indonesia, katakanlah Rp. 250 milyar, pada saat kurs pada posisi, misalnya pada bulan Juli 1997, sekitar Rp 2.500/dolar AS. Dengan segera ia menukarnya dalam dolar AS dan akan memperoleh 100 juta dolar AS. Sepekan kemudian kurs rupiah atas dolar dijatuhkan, yakni ketika cadangan dolar pemerintah telah habis, misalnya waktu itu kurs anjlok dari Rp 2.500/dolar menjadi Rp10.000/dolar. maka, si spekulan ini cukup mengambil 25 juta dolar AS, untuk melunasi utangnya, yang besarnya Rp 250 milyar. Dengan 25 juta dolar ini utangnya lunas, dan masih ada sisa 75 juta dolar. Jumlah besar ini menjadi ‘keuntungan’ yang diperolehnya hanya dalam sepekan, dengan tanpa mengeluarkan keringat.

Para ‘pemain pasar’ itu sendiri bisa begitu bebasnya ‘bermain’ karena kebijakan ekonomi kita, sebagaimana sudah dijelaskan di atas, secara total mengikuti kewajiban dari IMF dan Bank Dunia, sepenuhnya mengikuti pasar bebas. Di sisi lain negara-negara yang telah terkapar dimangsa oleh para spekulan yang bebas bermain karena kebijakan IMF dan Bank dunia ini kemudian ditampung untuk ‘ditolong’ oleh keduanya!

Maka, kita jangan mudah terkecoh akan istilah spekulasi dan spekulator tersebut, yang mengesankan seolah-olah sistem perbankan ini tidak terlibat dalam kejahatan tersebut. Tentu saja hal ini tidak benar. Bukankah semua permainan itu juga sepenuhnya dilakukan dalam perbankan, dan bahkan bank-bank itu sendiri, adalah bagian dari para penjual dan pembeli valuta asing tersebut? Pemerintah demokratis di mana pun telah dibuat tak berkutik oleh kekuatan uang ini.

Pengelabuan ini sama persis dengan yang dilakukan perbankan, dalam versi paling mutakhir, yakni klaim akan ketidakterlibatan sistem perbankan dalam proses ‘pencucian uang’ (money laundering). Sistem perbankan menyatakan tidak terlibat dengan uang-uang haram, hasil perjudian, perdagangan obat-obatan terlarang seperti narkoba, penjualan senjata ilegal, dan sebagainya. Seolah-olah para penjahat ini memperjualbelikan barang-barang haram tersebut tidak melalui perbankan, dan menyimpan uang bermilyar-milyar dolar itu, dalam tas-tas kresek di bawah bantal! Tentu ini merupakan pengelabuan yang terang-terangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s