Penetrasi Riba dalam Masyarakat

Posted: 17 September 2012 in Kapitalisme Global

Ekspansi kredit (utang dengan riba), baik utang individu maupun negara oleh sistem perbankan – yang tiada lain berarti kegiatan sewa-menyewa uang – jual-beli saham dan ‘kertas berharga’, jual-beli valas, dan sejenisnya adalah inti kapitalisme. Kegiatan ekonomi finansial ini tidak bersentuhan dengan ekonomi riel yang terkait dengan kebutuhan hidup nyata umat manusia, kini mendominasi kita. Perbandingan keduanya, pada pertengahan tahun 2000-an, mencapai rasio kira-kira 100:3, atau dalam nilai absolut setara 200 triliun dolar AS (bisnis ribawi, jual beli mata uang dan surat utang) berbanding hanya sekitar 6 triliun dolar AS (bisnis sektor riel).

Di Indonesia pada (semester pertama 2006) nilai rata-rata perdagangan harian di Bursa Efek Jakarta (BEJ) mencapai Rp 1.8 triliun. Industri perbankan secara konsisten terus meningkat labanya dari Rp 1,5 triliun pada Januari 2006 menjadi Rp 15,8 triliun pada Mei 2006. Pada waktu yang sama, aset perbankan nasional bertambah Rp 49,3 triliun. Per Mei 2006, dana perbankan yang ‘nganggur’ tidak disalurkan ke sektor ril mencapai Rp 393 triliun. Sementara perekonomian di sektor riel, yang terkait dengan komoditas dan jasa-jasa, justru sedang mengalami kelesuan yang luar biasa. Fakta ini mencerminkan kenyataan bahwa riba yang haram telah mengalahkan perdagangan yang halal.

Ekonomi yang mengelilingi kita hanyalah buih (bubble economy) yang suatu waktu niscaya akan meledak. sementara, kita semua sama-sama melihat peran dan penetrasi perbankan yang semakin hari semakin merasuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Akibatnya adalah beban berganda. Di satu sisi biaya hidup menjadi makin mahal karena, sebagaimana telah dijelaskan dengan panjang lebar sebelumnya, riba memberikan efek langsung berupa ‘pemajakan’ terselubung kepada seluruh anggota masyarakat. Di sisi lain investasi produktif tidak berlangsung, karena mereka yang memiliki uang akan menyewakannya (menyimpannya) kepada pihak perbankan, daripada menginvestasikannya dalam kegiatan berdagang.

Dampak pemajakan umum dari sistem uang kertas dapat diilustrasikan dengan sederhana. Tiga puluh tahun lalu, pada tahun 1970-an, harga setongkol jagung di Jakarta tak lebih dari Rp 5/tongkol. Saat ini, tahun 2006, harga setongkol jagung yang sama adalah Rp 1.000/tongkol. Adakah jagungnya berubah, ataukah uang kertasnya yang berubah, mengikuti fitrahnya sebagai selembar kertas tak bernilai? Tentu, para ekonom mengelabui kita dengan menyalahkan inflasi, sebagai penyebabnya.

Marilah sekarang kita bandingkan dengan Dinar emas, yang nilai tukar atau daya belinya tidak pernah berubah. Sejak zaman Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam sampai detik ini harga seekor kambing tidak berubah tetap satu Dinar, dan harga seekor ayam tetap satu Dirham. Nilai tukar Dinar terhadap dolar AS, dalam lima tahun terakhir ini, rata-rata naik sekitar 12,5%. Pada tahun 2005-2006 kenaikan ini bahkan mencapai lebih dari 40%. Diagram berikut menunjukkan nilai tukar Dinar terhadap dolar AS dalam periode 2001-2006 tersebut, meningkat dari 37 dolar AS (posisi akhir 2001) sampai 85 dolar AS (posisi Juli 2006). Pemakaian komoditas yang memiliki nilai intrinsik, seperti halnya emas dan perak, sebagai alat tukar, memperlihatkan bahwa inflasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem mata uang kertas.

Sementara itu, untuk mengatasi beban yang bersumber dari kegiatan perbankan ini, apa solusi yang mereka tawarkan bagi masyarakat? Ketika berbagai jasa sosial tidak lagi disediakan oleh pemerintah karena subsidi telah dialihkan untuk membayar utang negara, atau karena unit-unit penyedia jasa tersebut telah diswastanisasi, para bankir mengambil alihnya untuk lebih banyak mengeruk kekayaan. Penyediaan sekolah-sekolah, perumahan, rumah sakit, instalasi air bersih, penyediaan enerji, bahkan pembangunan jalan-jalan umum, menjadi ladang investasi para bankir ini. Biaya pendidikan kesehatan, transportasi, dan layanan sosial lain pun , menjadi semakin tak terjangkau. Harga-harga berbagai produk kebutuhan rumah tangga pun semakin mahal, karena dampak inflasinya.

Para bankir kembali menawarkan ‘solusi’ dengan menyediakan kredit atau utang secara langsung kepada konsumen (perumahan, pendidikan, kesehatan, tunjangan hari tua, kendaraan, peralatan rumah tangga dsb), tentu dengan riba di dalamnya. Penetrasi jaringan perbankan dalam menebar jerat-jerat utang bukan saja terjadi pada tingkat negara, tapi juga individu-individu, tanpa membedakan korbannya kaum berpunya atau orang miskin. Indikasi dari hal ini adalah semakin meluasnya penjualan produk dan jasa secara kredit, dengan persyaratan yang tampak sangat ringan. Kasus-kasus gagal bayar oleh debitur, beserta berbagai kesulitan pada tingkat rumah tangga yang mengikutinya, semakin banyak ditemukan. Akibatnya keseluruhan anggota masyarakat kecuali para bankir itu, menanggung beban yang berlipat ganda.

Inilah kapitalisme, sosok sejati modernitas, yang kini mendominasi kehidupan kita. hakikat manusia telah diredusir, pada mulanya di pabrik-pabrik, semata-mata sebagai buruh, yang pada dasarnya diperbudak untuk menghasilkan nilai tambah. Perbudakan kemudian dilanjutkan di luar pabrik, ketika manusia diposisikan semata-mata sebagai konsumen, dengan tugas tunggal menghabiskan produk industri. Pada akhirnya, manusia diposisikan sebagai debitur, yang merupakan sumber penghisapan kekayaan oleh para bankir-rentenir. Pehghisapan lanjut ini dilakukan baik secara langsung melalui utang-ribawi atau secara langsung melalui perpajakan dan inflasi. Kapitalisme, dan negara demokrasi yang menopangnya, adalah sistem tirani yang memperbudak umat manusia.

Dalam bab berikut kita akan lebih memahaminya dengan melihat asal-mula sejarah dan gagasan dasar yang mendasari kelahiran dan perkembangan kapitalisme ini. Dari sini kita juga akan melihat pengaruh dan implikasinya bagi dunia Islam, yang kini telah pula didominasi oleh gagasan ini, dan menyambutnya dengan gerakan pembaruan Islam. Hasilnya adalah diasimilasikannya islam ke dalam kapitalisme, sebagaimana akan ditunjukkan pada bab-bab berikut buku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s